Pada Negara – Negara maju, berat
tinja normalorang dewasa kurang dari 200 gram/hari; air tinja memberikan 60
hingga 85 % dari berat tersebut. Frekuensi defekasi yang normal berkisar dari
tiga kali seminggu hingga tiga kali sehari. Faktor – faktor yang mempengaruhi
berat tinyja, konsistensi dan frekuensi defekasi mencakup kandungan serat dalam
makanan, jenis kelamin (berat jenis rata – rata per hari pada perempuan lebih
kecil dibandingkan pada laki – laki ), obat – obat yang diminum dan kemungkinan
pula latihan (exercise) serta stress.
Diare secara formal diartikan
sebagai buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari
biasanya (normal 100 – 200 mg per jam tinja), dengan tinja berbentuk cairan
atau setengah cair (setengah padat), dapat pula disertai frekuensi defekasi
meningkat.
Diare menurut WHO (1980) adalah
buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari.
Diare harus dibedakan dengan
pseudodiare atau hiperdefekasi yang merupakan peningkatan frekuensi defekasi
tanpa peningkatan berat tinja di atas normal, sebagaimana terjadi pada pasien
irritable bowel syndrome, proktitis atau hipertiroidisme.
Diare juga harus dibedakan dengan
inkontinensia fekal yang merupakan pelpasan isis
rectum tanpa disadari. Inkontinensia lebih sering terjadi kalau tinja berbentuk
cair daripada padat dan mencerminkan fungsi anorektum atau otot pelvis yang
abnormal.
Diare terbagi dua berdasarkan mula
dan lamanya, yaitu diare akut dan diare kronik. Yang akan dibahas oleh penulis
pada makalah ini adalah diare akut dengan penyebab infeksi, di mana infeksi
merupakan penyebab paling banyak diare di Indonesia .
Defenisi
Diare akut adalah diare yang
awalnya mendadak dan berlangsung singkat, dalam beberapa jam sampai 7 atau 14
hari.
Epidemiologi
Di Amerika Serikat keluhan diare
menempati peringkat ketiga dari daftar keluhan pasien pada ruang praktek
dokter, semnetara pada beberapa rumah sakit di Indonesia data menunjukkan diare
akut karena infeksi (gastroenteritis) terdapat pada peringkat pertama s/d
keempat pasien dewasa yang datang berobat ke rumah sakit (KOPAPDI VI, Jakarta,
1984).
Di Amerika Serikat, kelompok
populasi yang beresiko tinggi menderita diare infeksius akut mencakup para
wisatawan yang akan berpergian ke Negara – Negara berkembang atau yang baru
kembali dari negara – Negara tersebut, individu yang mengkonsumsi kerang, kaum
homoseks (gay bowel syndrome), perempuan tuna susila dan pemakai obat bius
intravena, para penghuni panti perawatan untuk anak cacat mental serta tumbuh kembang,
manula dan rumah sakit. Pada penderita AIDS menghadapi resiko untuk menderita
rangkaian infeksi enteric yang serius secar mencolok.
Etiologi
Diare akut dapat disebabkan oleh:
a. Infeksi
Infeksi merupakan penyebab utama diare akut. Diare akut karena infeksi
dapat ditimbulkan oleh:
§
Bakteri : E.coli, Salmonella thypii,
Salmonella parathypi A/B/C, Shigella dysentriae, Shigella flexineri, Vibrio
cholera, Vibrio eltor, Vibrio parahemolyticus, Clostridium perfringens,
Campilobacter (Helicobacter) jejuni, Staphyllococcus sp, Streptococcus sp,
Yersinia intestinalis, Coccidiosis.
§
Parasit :
- Protozoa
: Entamoeba hystolitica, Giardia lamblia, Trichomonas hominis, Isospora sp.
- Cacing
: A. lumbricoides, A.duodenale, N.americanus, T.trichiura, O.velmicularis,
S.stercoralis, T.saginata, T.solium.
§
Virus : Rotavirus, Adenovirus, Norwalk .
Dalam penelitian
di RS Persahabatan, Jakarta Timur (1993 – 1994) terhadap 123 pasien dewasa yang
dirawat di bangsal diare akut, didapatkan hasil isolasi dengan E.coli
(38,29%), V.cholerae Ogawa (18,29%) dan Aeromonas sp. (14,29%)
sebagai tiga penyebab terbanyak.
b. Non
infeksi
Penyebab lain yang
dapat menyebabkan diare akut adalah toxin dan obat, nutrisi enteral diikuti
puasa yang berlangsung lama, kemoterapi, impaksi fekal (overflow diarrhea) atau
kondisi lain seperti intoleransi laktosa.
Patofisologi
Sebanyak kira – kira 9 – 10 L
cairan memasuki saluran cerna setiap harinya, berasal dari luar (diet) dan dari
dalam tubuh kita (sekresi cairan lambung, empedu, dan sebagainya). Sebagian
besar (75 – 85%) dari jumlah tersebut akan direabsorbsi kembali di usus halus
dan sisanya sebanyak 1500ml akan memasuki usus besar. Sejumlah 90% dari cairan
di usus besar akan diresorbsi, sehingga tersisa sejumlah 150 – 250 ml cairan
yang akan ikut membentuk tinja.
Faktor – faktor faali yang
menyebabkan diare sangat erat hubungannya satu sama lain. Misalnya saja, cairan
intraluminal yang meningkat menyebabkan terangsangnya usus secara mekanis
karena meningkatnya volume, sehingga motilitas usus meningkat. Sebaliknya bila
waktu henti makanan di usus terlalu cepat akan menyebabkan gangguan waktupenyentuhan
makanan dengan mukosa usus sehingga penyerapan elektrolit, air dan zat – zat
lain terganggu.
Bagan patofisiologi diare secara
sederhana dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Jelas bahwa meskipun infeksi
merupakan penyebab diare akut terbanyak di Indonesia , namun ia hanya merupakan
sebagian dari faktor – faktor faali yang berperan dalam patofisiologi diare.
Patogenesis
Diare infeksius yang akut dan
tersebar di seluruh dunia menyebabkan lebih dari 4 juta kematian setiap
tahunnya pada anak dan balita, khususnya di Negara berkembang, tempat diare
infeksius akut menjadi penyebab utama malnutrisi kalori protein dan dehidrasi.
Faktor – faktor yang turut menjadi penyebab adalah pembuangan limbah serta
pengadaan air bersih yang tidak memadai, lingkungan yang penuh sesak serta
kurangnya kebersihan perorangan, kemiskinan, kurangnya akses pada pelayanan
kesehatan dan kurangnya pendidikan.
Sebagian besar diare infeksius
ditularkan secara fekal oral melalui minuman atau makanan yang terkontaminasi
tinja sebagai akibat dari system
pembuangan limbah yang jelek atau oleh kotoran hewan peliharaan di dalam air
yang kebersihannya tidak memadai, ditambah dengan ekskresi yang buruk, peralatan
atau alat pembuatan makanan yang telah terkontaminasi mikroorganisme pathogen, makanan
yang tidak matang, bahkan yang disajikan tanpa dimasak.
Penularannya adalah transmisi orang
ke orang melalui:
- aerosolisasi (Norwalk , Rotavirus)
- tangan yang terkontaminasi (Clostridium
difficile)
- aktivitas sexual.
Dua hal umum yang patut
diperhatikan pada keadaan diare akut karena infeksi adalah faktor kausal
(agent) dan faktor pejamu (host). Faktor pejamu adalah kemampuan pertahanan
tubuh terhadap mikroorganisme yang dapat menimbulkan diare akut, terdiri atas
faktor – faktor daya tangkis atau lingkungan intern traktus intestinal seperti
keasaman lambung, motilitas usus, imunitas dan juga mencakup lingkungan
mikroflora usus.
Penurunan keasaman lambung pada
infeksi Shigella terbukti dapat menyebabkan serangan infeksi yang lebih berat
dan menyebabkan kepekaan lebih tinggi terhadap infeksi oleh V.cholerae.
Hipomotilitas usus pada infeksi usus memperlama waktu diare dan gejala
penyakit, serta mengurangi absorbsi air dan elektrolit, tambahan lagi akan mengurangi kecepatan eliminasi sumber
infeksi. Peran imunitas dibuktikan dengan didapatkannya frekuensi pasien
Giardiasis yang lebih tinggi pada mereka yang kekurangan Ig A. Percobaan lain
membuktikan bahwa lumen usus dirangsang oleh suatu toksoid berulang kali, akan
terjadi sekresi antibody. Pada percobaan binatang untuk mempelajari hubungan
antara mikroflora usus dan tantangan infeksi, didapatkan perkembangan
Salmonella thypimurium dapat dikurangi pada mikroflora usus yang normal.
Faktor penyebab yang mempengaruhi
patogenesis antara lain:
- daya
penetrasi yang merusak sel mukosa
- kemampuan
memproduksi toxin yang mempengaruhi sekresi cairan di usus
- daya lekat
kuman, kuman ini membentuk koloni – koloni yang dapat menginduksi diare.
Patogenesis diare yang disebabkan
infeksi bakteri terbagi dua, yaitu:
1. bakteri
noninvasive (enterotoksigenik)
Bakteri yang
termasuk golongan ini adalah V.cholerae, enterotoksinogenik E.coli (ETEC),
C.perfringens, S.aureus dan vibrio nonaglutibel.
V.cholerae eltor
mengeluarkan toksin yang terikat pada mukosa usus halus 15 – 30 menit sesudah
diproduksi vibrio. Enterotoksin ini mengakibatkan kegiatan berlebihan
nikotinamid adenine dinukleotid pada dinding sel usus, sehingga meningkatkan kadar adenosine
3’, 5’ – siklik monofosfat (siklik AMP) dalam sel yang menyebabkan sekresi
aktif anion klorida ke dalam lumen usus yang diikuti oleh air, ion bikarbonat,
kation natrium, dan kalium. Namun demikian mekanisme absorbsi ion Na melalui
pompa natrium tidak terganggu karena itu keluarnya Cl (disertai air, ion bikarbonat, kation Na
dan K) dapat dikompensasi oleh meningkatnya ion Na yang diabsorbsi (disertai
air, ion bikarbonat, Na dan Cl). Kompensasi ini dapat dicapai dengan pemberian
larutan glukosa yang diabsorbsi secara aktif oleh dinding sel usus. Glukosa
tersebut diserap bersama air, sekaligus diiringi oleh ion Na, K, Cl dan HCO3.
Inilah dasar pemberian terapi oralit per oral pada kolera, sebagaimana terlihat
pada skema patofisiologi diare.
Pencegahan dalam
klinik agar tidak terjadi interaksi enterotoksin kolera pada sel mukosa belum
berhasil karena aviditas dan spesifitas enterotoksin sangat tinggi dan
peningkatannya pada tempat reseptor sangat cepat.
Dalam hal ini
penting diketahui bahwa tidak ditemukan kerusakan pada sel-sel lumen usus.
Kelainan histology yang mungkin dijumpai seperti deplesi mucus dalam sel
goblet, dilatasi kripti dan kapiler villi serta edema ringan lamina propria
merupakan kelainan – kelainan fungsional dan bukan karena enterotoksin.
Secara klinis
dapat ditemukan diare berupa air cucian beras dan meninggalkan dubur secara
deras dan banyak (voluminous). Keadaan ini disebut diare sekretorik isotonic
voluminal.
E.coli
mengeluarkan dua macam enterotoksin ialah labil toxin (LT) dan stable toxin
(ST). LT bekerja secara cepat terhadap mukosa usus halus hanya tetapi hanya
memberikan stimulasi yang terbatas terhadap enzim adenilat siklase. Dengan
demikian jelas bahwa diare yang disebabkan oleh E.coli lebih ringan
dibandingkan diare yang disebabkan V.cholerae.
Tidak semua pasien yang terjangkit E.coli
akan menderita diare, ia dapat pula menyebabkan disentri yang mirip sekali
disentri yang disebabkan kuman Shigella.
Clostridium perfringens (tipe A) yang
sering menyebakan keracunan makanan menghasilkan enterotoksin yang bekerja
mirip enterotoksin kolera yang menyebakan diare yang singkat dan dasyat.
2. bakteri
enteroinvasif
Bakteri yang
termasuk golongan ini adalah enteroinvasif E.coli (EIEC), S.paratyhi B,
S.thypimurium, S.enteriditis, S.choleraesuis, Shigela,Yersinia dan
C.perfringens tipe C.
Di
sini diare disebabkan oleh kerusakan dinding usus berupa nekrosis dan ulserasi.
Sifat diarenya sekretori eksudatif. Cairan diare dapat tercampur dengan lendir
dan darah. Walaupu demikian infeksi oleh kuman – kuman ini dapat juga
bermanisfestasi sebagai suatu diare koleformis.
Selain
mengeluarkan toksin yang bekerja pada sel – sel usus halus, Shigella juga
menyerang sel usus besar dan menyebakan ulserasi yang menyebabkan daya absorbsi
usus besar berkurang. Oleh karena jaringan nekrotik yang masuk lumen melepas
ion K intraselluler serta zat – zat osmotic aktif lainnya menyebabkan lebih
banyak air yang tertahan pula. Biasanya terdapat gejala – gejala sistemik
lainnya. Pada umumnya lesi di usus besar tidak lebih dalam dari lapisan
submukosa dinding usus.
Hal
ini berbeda dengan infeksi Salmonella, di mana epitel hampir tidak terganggu
tetapi ciri – ciri infeksi ditemukan di dalam lapisan lamina propria. Beberapa
jenis kuman Salmonella dapat menyebabkan ulserasi dinding usus halus. Mekanisme
terjadinya ulserasi belum pasti, tetapi yang jelas pada invasi dinding usus
akan terjadi gangguan pertukaran air dan elektrolit. Jenis – jenis kuman
Salmonella yang sering merupakan penyebab diare adalah s.parathypi B,
S.thypimurium, S.enteriditis, S.choleraesuis.
Patogenesis diare
oleh karena parasit dapat berupa :
1. E.hystolitica
menyebabkan kerusakan berupa ulkus besar dengan enzim – enzim histolitik dan
bakteri – bakteri setempat.
2. G.lamblia
dalam jumlah besar yang menutupi permukaan
lumen usus dapat menyebabkan kerusakan vili yang penting untuk penyerapan air,
elektrolit dan zat makanan.
3. Patofisiologi
oleh karena kandida masih belum jelas, mungkin karena super infeksi dengan
jasad renik lain dan keadaan seperti diabetes mellitus.
Mekanisme yang dilakukan oleh virus
masih belum jelas. Kemungkinan mekanismenya dengan adanya kerusakan sel epitel
mukosa walaupun hanya superficial akibat masuknya virus ini ke dalam sel. Berbeda
dengan bakteri kolera, rotavirus tidak meningkatkan aktivitas adenilsiklase.
Sebagai akibat kerusakan sel epitel jejunum, absorpsi air dan elektrolit akan
terganggu. Sebaliknya sel – sel kripti akan berproliferasi dan menyebakan
bertambahnya sekresi cairan ke dalam lumen usus. Selain itu, terjadi pula
kerusakan enzim-enzim disakarida yang menyebabkan intolerasi laktosa yang
akhirnya memperlama diare. Pada pemeriksaan tinja biasanya tidak didapati sel
eritrosit dan leukosit.
Manifestasi klinis
Pasien dengan
diare akut akibat infeksi dapat disertai keadaan mual, muntah(muntaber),
dan/atau demam, tenesmus, hematoschezia, nyeri perut atau kejang perut,
malabsorptif atau berdarah menurut penyebabnya.
Pasien yang
termakan toksin atau individu dengan infeksi toksigenik secara khas akan
mengalami nausea – vomiting sebagai gejala menonjol tetapi jarang menderita
panas yang tinggi. Nyeri abdomen bersifat ringan, difus serta kram dan
mengakibatkan diare cair. Vomitus yang dimulai dalam waktu beberapa jam setelah
mengkonsumsi suatu makanan harus dicurigai kemungkinan keracunan makanan yang
disebabkan oleh toksin yang telah terbentuk sebelumnya.
Parasit yang tidak
menginvasi mukosa intestinal seperti Giardia lamblia dan Cryptosporydium
biasanya hanya menimbulkan perasaan tidak enak perut yang ringan. Infeksi
Giardia juga dapat disertai dengan steatoroe yang ringan, keadaan penuh gas
dalam perut dan meteorismus.
Bakteri invasive
seperti Campylobacter, Salmonella serta shigella dan organisme yang memproduksi
sitotoksin seperti C.difficile serta organisme enterohemoragik E.coli menyebabkan
inflamasi intestinal yang berat, nyeri abdomen dan sering pula demam yang
tinggi; kadang terdapat tanda peritoneal yang menunjukkan kasus bedah abdomen.
Kuman Yersinia
sering menginfeksi ileum terminalis serta sekum dan ditemukan dengan nyeri serta
nyeri tekan pada abdomen kuadran kanan bawah yang sugestif ke arah apendisitif
akut.
Diare yang encer
merupakan cirri khas organisme yang menginvasi epitel intestinal dengan
inflamasi ringan, seperti virus enteric atau organisme yang menempel tanpa merusak
epitel tersebut seperti kuman enteropatogenik atau enteroadheren E.coli,
protozoa, dan helmintes. Sebagian organisme seperti Campylobacter, Aeromonas,
shigella dan species Vibrio keduanya memproduksi enterotoksin dan menginvasi
mukosa intestinal; oleh karena itu, pasien yang menderita infeksi ini sering
ditemukan dengan diare cair yang diikuti oleh diare berdarah dalam waktu
beberapa jam atau hari.
Adanya gejala
sistemik dapat memberikan petunjuk tambahan tentang penyebab diare yang
mendasari. Baik Shigellosis maupun kuman enterohemoragik E.coli dapat disertai
dengan sindroma hemolitik – uremik, khususnya pada usia muda atau sangat tua.
Infeksi Yersinia
dan kadang bacterial enterial lainnya dapat disertai dengan sindroma Reiter
(arthritis, uretritis dan konjungtivitis), tiroiditis, perikarditis atau
glomerulonefritis
Diagnosis
Diare akut karena infeksidapat
ditegakkan sebagai masalah diagnostic bila anamnesis, manifestasi klinis dan
pemeriksaan penunjang menyokongnya.
1. Anamnesis
§
Siapa yang terkena diare?
- Misanya
pria homoseksual, pertimbangkan gay bowel syndrome, akibat sifilis gonorea,
herpes simpleks, chlamidya, shigella, lymphogranuloma venereum.
- Wisatawan/pengunjung
bangsa asing, pikirkan cholera, giardiasis, E.coli dan amubiasis.
§
Di mana kontak dengan mikroorganisme?
- Tempat
penampungan umum, misalnya rumah perawatan orang tua dapat merupakan tempat
kontak dengan infeksi Shigella dan Giardia.
§
Adakah orang lain di sekitarnya yang terkena?
- Kemungkinan
adanya keracunan makanan atau cholera akibat pencemaran sumber air.
§
Apa yang dimakan dan diminum sebelum diare?
- Bahan
dari susu (dairy products) dan dalam jangka waktu 6 jam disertai enek dan
muntah, kemungkinan keracunan S.aureus.
- Daging
panggang ayam atau sapi (turkey and roast beef) dalam jangka waktu 8 – 24 jam
kemudian diare dengan nyeri perut, kemungkinan keracunan C.perfringens.
- Kerang
mentah (shellfish) dapat berakibat terinfeksi V.parahaemolyticus.
- Produk
daging/telur ayam kurang matang (undercooked poultry) dalam waktu 18 – 24 jam
dapat menyebabkan Salmonellosis.
- Air
minum mentah dari leding dapat terinfeksi Giardiasis.
- Nasi
goreng dari restoran Cina dalam 6 – 24 jam dapat keracuna B.cereus.
- Hamburger
dan fast food restaurant dapat mengakibatkan colitis hemoragik karena E.coli.
2. Pemeriksaan
fisik
Ditemukan mual,
muntah, demam, dan nyeri perut. Pada infeksi bakteri invasive mungkin akan
ditemukan nyeri perut hebat, demam yang tinggi, dapat ditemukan tanda perforasi
yang membutuhkan pembedahan.
3. Pemeriksaan
penunjang
§
Pemeriksaan darah tepi lengkap
§
Pemeriksaan analisis gas darah, elektrolit,
ureum, kreatinin dan berat jenis plasma
§
Pemeriksaan urine lengkap
§
Pemeriksaan tinja lengkap dan biakan tinja dari
colok dubur
§
Pemeriksaan biakan empedu bila demam tinggi dan
dicurigai infeksi sistemik
§
Pemeriksaan sediaan darah malaria serta serologi
Helicobacter jejuni sangat dianjurkan.
Diagnosis Banding
Komplikasi
Diare yang
berlangsung beberapa waktu tanpa penanggulangan medik yang adekuat dapat
menyebabkan kematian karena kekurangan cairan di badan yang mengakibatkan
renjatan hipovolemik atau karena gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolic
yang lanjut.
Karena kehilangan
cairan/dehidrasi, sesorang akan merasa haus, berat badan berkurang, mata
menjadi cekung, lidah kering, tulang pipi menonjol, turgor kulit menurun serta
suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan deplesi air yang
adekuat.
Karena kehilangan
bikarbonas, perbandingan bikarbonas dengan asam bikarbonas berkurang, yang
mengakibatkan penurunan pH darah. Penurunan ini akan merangsang pusat
pernafasan sehingga frekuensi nafas lebih cepat dan lebih dalam (pernafasan
Kusmaull). Reaksi ini adalah usaha badan untuk mengeluarkan asam karbonas agar
pH darah dapat kembali normal. Pada keadaan asidosis metabolic yang tidak
dikompensasi, bikarbonas standar juga rendah, pCO2 normal dan base
excess sangat negatif. Bila keadaan asidosis metabolic menjadi lebih berat,akan
terjadi kepincangan pada pembagian darah dengan pemusatan darah lebih banyak
dalam sirkulasi paru – paru. Observasi ini penting sekali karena dapat
menyebabkan edema paru pada pasien yang menerima rehidrasi cairan intravena
tanpa alkali.
Gangguan
kardiovaskular pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan dengan
tanda – tanda denyut nadi cepat (lebih dari 120 kali/menit), tekanan darah
turun sampai tak terukur, pasien gelisah, muka pucat, ujung ekstrimitas dingin
dan kadang terjadi sianosis.
Kekurangan kalium
pada diare akan menyebabkan aritmia jantung.
Penurunan tekanan
darah akan menyebabkan perfusi ginjal dapat menurun sehingga timbul anuria, sehingga
bila kekurangan cairan tak segera diatasi dapat timbul penyulit berupa nekrosis
tubular ginjal akut, yang berarti pada saat tersebut kita kita menghadapi gagal
ginjal akut.
Penatalaksanaan
Pada orang dewasa, penatalakasanaa
diare akut akibat infeksi terdiri atas:
1. Rehidrasi
sebagai prioritas utama pengobatan
• jenis
cairan yang hendak digunakan
Pada saat ini
cairan ringer Laktat merupakan cairan pilihan karena tersedia cukup banyak di
pasaran, meskipun jumlah Kaliumnya lebih rendah bila dibandingkan dengan kadar
Kalium cairan tinja.
Apabila tidak
tersedia cairan ini, dapat digunakan cairan NaCl isotonic. Sebaiknya ditambahkan
satu ampul Na bikarbonat 7.5% 50ml pada setiap satu liter infuse NaCl isotonic,
bila obat ini tersedia. Maka asidosis dapat teratasi dalam 1 – 4 jam.
Pada keadaan diare
akut awal yang ringan, tersedia di pasaran cairan/bubuk oralit, yang dapat
diminum sebagai usaha awal agar tidak terjadi rehidrasi dengan berbagai
akibatnya.
• jumlah
cairan yang hendak diberikan
Pada prinsipnya jumlah
cairan yang hendak diberi sesuai dengan jumlah cairan yang dikeluarkan dari
badan. Kehilangan cairan dari badan dapat diukur dengan memakai cara:
o BJ
plasma dengan memakai rumus : kebutuhan cairan = (BJ plasma – 1.025 ) x BB x
4ml / 0.001
o Metode
Pierce berdasarkan keadaan klinis :
- Dehidrasi
ringan, kebutuhan cairan = 5% x BB
- Dehidrasi
sedang, kebuthan cairan = 8% x BB
- Dehidrasi
berat, kebutuhan cairan = 10% x BB
o Metode
Daldiyono berdasarkan keadaan klinis yang diberi penilaian/skor:
- Rasa
haus/muntah 1
- TD
sistolik 60 – 90 mmHg 1
- TD
sistolik < 60 mmHg 2
- Frekuensi
nadi > 120 x/menit 1
- Kesadaran
apati 1
- Kesadaran
somnolen, spoor atau koma 2
- Frekuensi
nafas > 30 x/menit 1
- Facies
cholerica 2
- Vox
cholerica 2
- Turgor
kulit menurun 1
- Washer
woman’s hand 1
- Extrimitas
dingin 1
- Sianosis 2
- Umur
50 – 60 tahun 1
- Umur
> 60 tahun 2
Kebutuhan cairan
= ( skor / 15 ) x 10% x kgBB x 1 liter
• jalan
masuk atau cara pemberian cairan
rute pemberian
cairan pada orang dewasa terbatas pada oral atau iv. Untuk pemberian per oral
diberikan larutan oralit yang komposisinya berkisar antara 29g glukosa, 3.5g
NaCl, 2.5g NaBikarbonas, dan 1.5g KCl setiap liternya. Cairan per oral juga
digunakan untuk mempertahankan hidrasi setelah rehidrasi inisial.
• jadwal
pemberian cairan
Untuk jadwal rehidrasi
inisial dengan perhitungan kebutuhan cairan berdasarkan metode Daldiyono atau
BJ plasma diberikan pada 2 jam pertama. Tujuannya jelas agar tercapai rehidrasi
optimal secepat mungkin. Jadwal pemberian cairan tahap kedua yakni untuk jam
ke-3, didasarkan kepada kehilangan cairan selama 2 jam pemberian cairan
rehidrasi inisial sebelumnya, rehidrasi diharapkan lengkap pada akhir jam ke-3.
2. Melaksanakan
tata kerja terarah untuk identifikasi penyebab diare akut karena infeksi
Karena diare akut
akan terutama menyebabkan gangguan dalam keseimbangan air, elektrolit dan asam
basa maka pemeriksaa penunjang yang dilakukan adalah pemeriksaan darah tepi
lengkap, astrup, elektrolit, ureum, kreatinin, BD plasma.
Untuk mengethaui
penyebab infeksi biasanya dihubungkan dengan keadaan klinisnya, namun
setidaknya dilakukan pemeriksaan urin lengkap, tinja lengkap dan biakan tinja
dari colok dubur.
Bila ada demam
tinggi dan dicurigai adanya infeksi sistemik, pemeriksaan biakan empedu, Widal.
Sediaan darah malaria serta serologi Helicobacter jejuni sangat dianjurkan.
Pemeriksaan khusus
seperti serologi amuba, jamur dan Rotavirus biasanya menyusul bila dicurigai
setelah melihat hasil pemeriksaan penyaring.
Secara klinis
diare karena infeksi akut dibagi menjadi dua golongan.
a. koleriform
: diare yang terutama terdiri dari cairan saja.
b. disentriform
: diare dengan lendir kental dan kadang – kadang berdarah.
Pemeriksaan
penunjang seperti telah disinggung di atas dapat diarahkan sesuai dengan
petunjuk bagaimana bentuk dan diarenya, misalnya bila disentriform perlu
dipertimbangkan pemeriksaan sigmoidoskopi bila sarana tersedia.
3. Memberikan
terapi simptomatik
Pemberian terapi
simptomatik haruslah berhati – hati dan setelah benar – benar dipertimbangkan
karena lebih banyak kerugian daripada keuntungannya.
Anti motilitas
seperti loperamid akan memperburuk diare yang diakibatkan oleh bakteri yang
entero invasive karena potensial akan memperpanjang waktu kontak antara
bacteria dengan epitel usus. Kalau memang dibutuhkan karena pasien amat
kesakitan diberikan dalam jangka pendek (1 – 2 hari) dan jumlah sedikit (3 – 4
tablet) serta memperhatikan ada tidaknya glaucoma atau hipertrofi prostate.
Halyang sama dalam
pemberian antiemetik, karena Metoclopropamid misalnya dapat memberikan kejang
pada anak dan remaja akibat rangsangan ekstrapiramidal.
4. Memberikan
terapi definitive
Pada infeksi saluran
cerna pencegahan sangat penting. Hiegene perorangan, sanitasi lingkungan dan
imunitas melalui vaksinasi memegang peranan. Terapi kausal dapat diberikan pada
infeksi :
a. Kolera
elthor, dkk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar